Postingan

The Right Person At The Right Time

“10 tahun lalu kita pernah menyerah dan kalah, semoga kali ini kita sama-sama berjuang sampai menang.” 2016-2026 tentu bukan waktu yang singkat yaa menjalani kehidupan yang tidak mudah ini. People come and go, and so me. Tentu banyak cerita yang tercipta, baik suka ataupun duka. Bukan cuma itu, gue juga banyak melewati patah yang menyisakan luka. Tapi bukan itu yang mau gue ceritain sekarang, gue mau cerita gimana ajaibnya “takdir” membawa kisah itu kembali.  Yup, sebelas tahun lalu (2015) di awal usia 20-an gue pernah punya hubungan yg spesial dengan teman sekolah. Setelah lulus kita sempat menjalani kehidupan masing-masing (gue di Jakarta, dan dia di Bandung). Gue lupa persisnya bagaimana awal mula kita akhirnya berjalan selayaknya pasangan, yang pasti masih jelas dalam ingatan bagaimana sepuluh tahun lalu kita akhirnya berpisah (2016). Karena memang awalnya kita berteman, dan berakhirnya hubungan kita hanya karena “ego” bukan karena sesuatu yg tidak bisa dimaafkan, hubungan pert...

Welcome Back Japan

 久しぶり Ternyata banyak momen yg gue lewatkan tapi tidak tercatat di blog ini, momen gue menginjak usia 31 tahun di November 2024, momen gue patah di usia 30 dan mencoba membuka hati untuk stranger dan ujung-ujungnya berakhir “lagi” hehe, momen gue menyelesaikan kontrak magang gue Juni 2025 sampai momen gue kembali lagi ke Jepang 5 Agustus 2025. Kenapa ya semakin gue dewasa semakin sedikit gue ingin membagikan kisah ke khalayak ramai, apalagi tentang rencana dan proses menuju sebuah impian. Memang belum sampai di fase menjadi privat banget, tapi sedikit demi sedikit usia memang mempengaruhi cara pandang dan bagaimana gue merespon sebuah masalah. Gue bersyukur bisa sampai di titik ini, gue merasa kalau usia 31 bukan hanya perubahan sebuah angka tapi juga perubahan pola pikir dan cara bersikap. Mungkin di usia 30 tahun pencapaian terbesar gue adalah ketika menyadari bahwa gue semakin jarang menangis, fyi gue adalah orang yang cengeng dan sudah pasti untuk menghadapi masalah diawali den...

Mendaki Gunung Fuji 3776MDPL

Gambar
  Wohooo, akhirnya kesampean juga mendaki gunung fuji. Setelah 5 tahun gak mendaki gunung, dengan niat dan tekad yang kuat gue memutuskan mendaki fuji musim panas tahun ini. Rencana ini baru gue susun 2bulan yang lalu, yang mana gue mencari beberapa info teman mendaki dan akhirnya gue pergi dengan rombongan berjumlah 19orang dan gue cewe sendiri. Iya, cewe sendiri. Udah biasa kan?! Hmm. Karena jarak tempat tinggal gue ke fuji lumayan jauh, hal pertama yang gue siapkan adalah memesan tiket bus untuk transportasi PP. Berikut biaya yg gue keluarkan : Bus : ¥9.900 x 2 = ¥19.800 Bus Shinjuku - Fujiyoshida : ¥3.800 x 2 = ¥7.600 Registrasi Fuji jalur Fujiyoshida : ¥2.800 Oke, lanjut cerita perjalanan mendaki. Jadiii, mendaki fuji itu gak dari awal banget. Seperti gunung di Indonesia ada beberapa jalur, dan rombongan gue memilih jalur Yoshida. Yang mana itu merupakan pos kelima. Dan untuk mencapai puncak rata-rata 6jam waktu perjalanan. Disinilah drama pendakian dimulai. Gue harap ini tida...

Kehilangan Diri Sendiri

Gambar
Hello 2024, it’s sooooo late rite. I haven't written in a long time, I'm too busy in real life or that's just my excuse? Hehe. Gila sih, kesibukan yang membuat gue cape bahkan bikin gue gak punya tenaga buat sekedar menulis sesuatu yang dulu adalah sebagai “obat pelepas penat” gue. Yup, gue baru tau setelah dewasa bahwa aslinya gue introvert, sehingga gue lebih nyaman memendam perasaan gue sendiri ketika gue tidak menemukan tempat aman dan nyaman. Gue merasa lega ketika gue menulis tentang apa yang gue rasakan dan pikirkan. Tapiiii, 2 tahun ke belakang setelah gue terjun ke dunia kerja baru yang menguras fisik juga mental ternyata gue gak bisa. Gue merasa bahwa saking sibuk dan capeknya, gue kehilangan diri gue, kehilangan hobi gue, atau bahkan dunia gue, yakni menulis. Mungkin orang lain akan mengira berlebihan, jika gue menyebut menulis adalah dunia gue. Tapi gue pernah punya mimpi mempunyai buku sendiri kok. Gue selalu merasa “pulang” ketika gue ke perpustakaan, toko buk...

30 Tahun

Hari ini adalah hari terakhir di bulan kelahiran, yup tepat di bulan dan tahun ini gue menginjak usia 30 tahun. It’s heard so scared? Before I scare about “thirty”, but now I realized. This is life. Life never stop, life never caring about ur worries anyway . Life must go on . Sesedih apapun kita, seberat apapun cobaan yang sedang kita lewati, semenyakitkan apapun luka yang sedang kita ratapi, atau sehancur apapun keadaan saat ini, hidup tidak pernah membiarkan kita berhenti.  30 tahun sudah gue hidup di dunia, dan tentu banyak pembelajaran yang gue dapat. Hal terbesar yang gue pahami saat ini adalah tentang penerimaan. Gue tau gue tidak sesabar dan seikhlas itu dalam menerima takdir, tapi paling tidak gue “menerima.” Dengan cara apa? Dengan cara terus melanjutkan hidup. Dari banyaknya rentetan kejadian demi kejadian, gue menarik benang kebaikan-kebaikan apa saja yang gue terima. Dari mulai keluarga yang baik, saudara-saudara yang baik, teman-teman gue sejak jaman sekolah hingga pe...

Satu Tahun

Hari ini, 1 Juli 2023 tepat satu tahun gue di Jepang. Alhamdulillah, di tahun pertama gue lulus N3 dan lulus ujian kaigo (ujian evaluasi). Ada banyak hal yg gue syukuri, selain selalu diberi kesehatan dan dikeilingi orang-orang baik. Kalaupun ada hal-hal menyedihkan, tidak berjalan sesuai rencana, itu wajar. Namanya juga hidup, ya gak mulus-mulus aja jalannya.  Gue yakin banget, apa yg sedang gue jalani sekarang bukanlah sebuah kebetulan. Makanya pas gue cape, pengen nyerah sama keadaan gue inget-inget lagi kalo Allah seslali ada. Selalu kasih bantuan di waktu-waktu terberat dan gak ada siapa-siapa lagi.  Untuk kesekian kalinya, gue cuma mau ngingetin diri gue sendiri. Bahwa gapapa kalo lu ngerasa lemah, ngerasa butuh bantuan, ngerasa sedih, ngerasa kecewa, ngerasa marah. Tapi inget, bentar aja mendramatisir perasaan-perasaan itu. Setelah lega ngeluapin, ya lanjutin lagi jalannya. Pelan-pelan aja. Gak usah buru-buru. Ok?

Love Language

Beberapa tahun ke belakang Love Language ramai menjadi bahan perbincangan, termasuk gue di setiap obrolan dengan teman. Sebenarnya dari kelima Love Language itu yang menjadi dominan adalah “tindakan” yang biasa kita terima bertahun-tahun dari lingkungan (keluarga, teman atau orang-orang sekitar) dan sesuatu yang kita tidak pernah dapat. Itu menurut sudut pandang gue. Love Language pertama gue adalah Act Of Service . Gue tidak terbiasa dengan Words Of Affirmation karena sepanjang masa tumbuh kembang gue di keluarga gue sangat jarang sekali memberikan pujian atau kata-kata. Bagi gue, sayang adalah tindakan. Bukan kata-kata. Dan sesuatu yg kita tidak pernah dapat. Yaitu Receiving Gift . Bisa berupa benda atau perhatian. Gue lahir dan tumbuh dari keluarga menengah ke bawah. Sebelum bekerja, gue tidak bisa mendapatkan sesuatu yg gue inginkan. Gue hanya bisa melihat orang lain membeli dan memakai, dan gue hanya bisa membayangkan (sampai ke fase menghayal) ada di posisi orang tersebut. Ke...