The Right Person At The Right Time

“10 tahun lalu kita pernah menyerah dan kalah, semoga kali ini kita sama-sama berjuang sampai menang.”

2016-2026 tentu bukan waktu yang singkat yaa menjalani kehidupan yang tidak mudah ini. People come and go, and so me. Tentu banyak cerita yang tercipta, baik suka ataupun duka. Bukan cuma itu, gue juga banyak melewati patah yang menyisakan luka. Tapi bukan itu yang mau gue ceritain sekarang, gue mau cerita gimana ajaibnya “takdir” membawa kisah itu kembali. 

Yup, sebelas tahun lalu (2015) di awal usia 20-an gue pernah punya hubungan yg spesial dengan teman sekolah. Setelah lulus kita sempat menjalani kehidupan masing-masing (gue di Jakarta, dan dia di Bandung). Gue lupa persisnya bagaimana awal mula kita akhirnya berjalan selayaknya pasangan, yang pasti masih jelas dalam ingatan bagaimana sepuluh tahun lalu kita akhirnya berpisah (2016).

Karena memang awalnya kita berteman, dan berakhirnya hubungan kita hanya karena “ego” bukan karena sesuatu yg tidak bisa dimaafkan, hubungan pertemanan kita berjalan seperti biasa. Walaupun 2017 dia mencoba meminta kembali dan gue dengan halus menolak. Kita tetap berteman dengan baik. 

Setelah dari hubungan itu gue menjadi “anti” dengan komitmen. Bertepatan dengan sibuknya waktu gue untuk bekerja dan kuliah, gue pun tidak mau dipusingkan dengan urusan laki-laki.

Sampai pada tahun 2021 gue mau mencoba lagi hubungan yang “serius” di usia 27 tahun tapi akhirnya gagal di tahun berikutnya (2022). 

Ternyata, sakit hati di usia dewasa itu cepat pulihnya. Berbeda dengan “trust issue” bertahun-tahun karena gagal di hubungan saat usia 20-an, justru makin dewasa gue malah semakin berani mengambil keputusan untuk “ayo jalanin” dan keputusan “ayo udahin” kalau memang gak cocok.

Kegagalan itu berulang sampai 4 tahun berturut-turut. Haha. Yup, 4 tahun 4x putus dengan 4 orang berbeda. πŸ˜…

Sampailah pada tahun 2025 gue merasa “mual” harus berkenalan dengan strangers. Karena di 2x hubungan terakhir gue mencoba dari kenal di media sosial.

Gue berada di fase berkata pada diri gue sendiri “maybe marriage isn’t for everyone”. Dan gue sudah mencari negara lain untuk kemudian gue tinggali, di mana tidak ada orang yg kenal dengan gue dan mencampuri kehidupan gue dengan bertanya “kapan nikah?”

Plot twist, 2026. Masih lekat dalam ingatan bagaimana perasaan gue di awal tahun ketika itu. Entah kenapa gue kembali merasakan kesedihan dan mempertanyakan eksistensi gue hidup di dunia, gue bertanya “apakah di kehidupan yang cuma sekali ini gue tidak berhak bahagia dengan bertemu pasangan yang gue butuhkan?”, gue kehilangan rasa syukur gue beberapa saat hanya karena merasa hidup gak pernah berjalan sesuai keinginan ataupun rencana gue, padahal 2 tahun sebelumnya (setelah menginjak usia 30) gue sudah mengalami penerimaan yang lebih baik dibanding akhir usia 20-an. Tapi, balasan story di DM Instagram saat itu membawa kita pada percakapan panjang sampai saat ini.

Mungkin kalau dilihat dari kacamata manusia, 10 tahun itu lama. Kesempatan untuk kembali pun 50:50 karena bisa jadi salah satu dari kita sudah memiliki pasangan. Tapi tidak menurut sudut pandang Allah. Tuhan Maha Pembolak balik Hati. Tuhan yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Kita bertemu di versi terbaik kita, di versi kita yang lebih siap dan dewasa. Dan lucunya, kita tidak perlu bertemu untuk saling yakin bilang “ayo kita coba lagi”. Saat ini kita diberi ruang dan waktu untuk menjalani kehidupan masing-masing, tapi juga diberi “ujian” apakah kita akan gagal lagi atau berhasil sampai akhir.



Postingan populer dari blog ini

Welcome Back Japan

Mendaki Gunung Fuji 3776MDPL