Postingan

Pertama di Pertengahan

Hari pertama di pertengahan tahun disambut dengan tanggal merah. Alhamdulillah dikasih kesempatan libur, buat leyeh-leyeh. Alhamdulillah pagi-pagi bisa makan bubur yang enak di dekat tempat tinggal. Alhamdulillah bisa mandi pagi tanpa antri. 3 hal kecil yang mau gue syukuri di hari yang cerah ini. Dari sekian banyak kejadian demi kejadian gue masih terus belajar. Belajar untuk terus berfikir positif supaya apa yang dikeluarkan isi hati dan kepala bisa bekerja sama dengan takdir baik yang masih bisa diubah. Belajar untuk menerima dari hal-hal sulit yang dihadapi. Belajar untuk terus berjalan walau terseok, asal jangan berhenti. Gue tau betul, bahwa setiap ketidakikhlasan gue hanya memberatkan langkah gue saja dan menahan segala bentuk kebaikan yang datang dari berbagai penjuru. Maka dari itu, gue belajar yakin dan terus yakin meski harus sedikit demi sedikit. Belajar tidak membandingkan dengan hidup orang lain. Karena pada kenyataannya, everyone has struggle with their own lifes . Kita ...

Melepas

Ternyata apa-apa yang terjadi selalu berkaitan dengan perkara melepas. Terlebih di setiap fase hidup yang kita jalani. Entah melepas seseorang, kenangan, mimpi dan cita-cita atau perasaan sedih dan lainnya. Hari ini gue harus belajar lagi cara melepas. Melepas sesuatu yang berharga berupa waktu kebersamaan untuk kehidupan “yang gue harap” lebih baik kedepannya. Memang tidak ada jaminan berhasil, tapi Tuhan berjanji akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut berusaha mengubahnya.  Di usia yang terbilang dewasa seperti sekarang, gue harus tau bahwa segala sesuatu yang kita impikan tidak semuanya bisa kita dapatkan bersamaan. Semua silih berganti, seperti rasa sedih dan bahagia. Begitu juga dengan hal-hal berharga yang ingin dituju juga harus mengorbankan hal-hal berharga yang kita punya sebelumnya. Bukan soal kurang bersyukur, tapi memang kita harus tau kapan saatnya mengembangkan diri dibanding berdiam diri di titik itu-itu saja. Gue tau, akan ada penyesalan nantinya. Tapi gu...

Penerimaan

Beberapa hari terakhir gue lagi melow. Mungkin emang lagi masa PMS kali ya, jadi rasanya selalu ngga karuan. Gue tau siklus ini terus berulang setiap bulannya. Tapi keresahan yang gue alami selalu membuat gue ngga nyaman. Ditambah lagi, 2 minggu ini badan gue lagi ngga bisa diajak kompromi. Perasaan sakit di badan terus silih berganti, mulai dari radang, ganti batuk, terus ditambah badan pegel-pegel, alergi yang ngga berkesudahan, demam kadang sembuh kadang kumat sampai pada akhirnya gue harus pergi ke Bidan langganan gue di deket rumah dan meminum berbagai macam obat. Literally macam-macam (5 macam obat). Huft. Di rumah, keponakan gue juga sakit. Waktunya pun sama. Dan sama seperti gue, keponakan gue sakit ngga sampe tepar banget tapi ya batuk dan pilek bergantian gitu. Namanya anak kecil sakit dikit pasti kan rewel ya, dan lebih kasian aja kalo liat anak kecil sakit 😔 Selain karena siklus PMS, kayaknya perasaan gue bercampur aduk dengan rencana kepergian gue untuk kembali merantau. ...

Akhirnya Selesai

1 minggu materi online, 1 minggu materi offline dan praktek lab, 2 minggu terjun langsung ke lapangan. Akhirnya satu bulan selesai sudah proses ini. Banyak banget yang bisa diambil, terutama belajar sabar dan penerimaan yang baik di 2 minggu praktek di panti. Lelah, sudah jelas. Ngga ada hidup yang ngga melelahkan. Tapi belum sampai situ Ferguso. Masih ada tahap selanjutnya, dan lebih panjaaaaang sekali. Masih harus dipanjangkan lagi sabarnya, ikhlasnya, penerimaannya. Entah hadiah apa yang ada di masa depan atas ujian-ujian yang udah gue lakuin ini. Semoga selalu ada hal-hal baik dari niat-niat baik. Aamiin.

Apakah Salah Jalan?

Perjalanan gue sudah sejauh ini, kalau disuruh puter balik beneran jauuuuuuh banget. Abis bensin, tenaga, waktu dan segala macem. Kadang gue juga takut, ragu, berpikir kembali apakah jalan yang sudah gue pilih adalah benar? Sesuai tujuan?  Entahlah, sayangnya perjalanan kehidupan ngga sama kaya jalanan di dunia nyata. Ada puter baliknya, kalau salah jalan bisa tanya orang atau pake Google Maps . Kalau yang namanya perjalanan kehidupan, udah diambil ya gue harus jalanin sampe mentok sampe beneran ngga ada jalan lagi dan muncul pilihan-pilihan lain. Ketika perjalanan gue dirasa ngga berhenti-berhenti, ya gue tinggal nambah bekal semangat dan harapan buat terus lanjutin ini semua. Ketika semua bekal itu habis, istirahat bentar. Isi ulang lagi dengan mereview apa aja yang udah dilakuin, dihabisin, dan perlu apa lagi buat lanjutin perjalanan. Perlu ninggalin apa biar perjalanan selanjutnya ngga terlalu banyak beban, atau perlu ngajak teman perjalanan biar ada teman.  Di usia dewas...

Movie Marathon

Yep, hari ini gue movie marathon. Pertama, Gara-gara Warisan yang disutradarai Muhadkly Acho dan diproduseri oleh Ernest Prakasa. Tipikal film Ernest banget kalo kata orang-orang. Dari cerita, karakter, komedi dan apalah itu yang gue ngga begitu paham. Tapi pas gue nonton ternyata ngga sebagus itu. Well , mungkin ini soal selera. Tapi gue nggak seceria itu nontonnya. Banyak hal yang menurut gue dipaksakan. Ceritanya terlalu dramatisir, dan ngga tau kenapa ya menurut gue ngga enjoy aja dari awal sampe akhir. Scene-scene yang gue suka ya pas para karyawan Guest House nya aja. (6/10) Kedua, Doctor Strange - Multiverse of Madness . 6 tahun setelah film pertamanya yang sukses dan menjadi pahlawan baru setelah Iron Man, jujurly gue kecewa. Semenjak era Avangers End Game , banyak cerita lanjutan yang terlalu dipaksakan menurut gue. Spiderman 3 akhir tahun lalu aja gue kecewa, terus dilanjut sama Doctor Strange 2 ini. 2 jam nontonin ego seorang Wanda dan bucinnya Doctor Strange. Hmm. (6,5/...

Riweuh is my life

Gue salut deh ngeliat keluarga yang kompak, yang saling mengingatkan dengan nada biasa. Entah kenapa, setiap pergi full team (kelurga inti) pasti ada aja sesuatu yang berjalan tidak sesuai rencana. Dan ketika itu terjadi, keriweuhan dimulai. Satu sama lain saling berbicara dengan nada tinggi. Gue trauma untuk bisa mengajak pergi jalan-jalan keluar kota. Hal itu juga terjadi ketika akhir tahun 2016 kita pergi ke Yogyakarta menggunakan mobil. Yang pada akhirnya ada perselisihan antara gue dan kakak gue. Hal itu membuat gue lebih menyukai jalan-jalan tanpa keluarga. Karena gue tipikal orang yang sat set (apa-apa cepet), sedangkan jalan-jalan bareng keluarga banyak yang harus diurus, gue tidak suka kegaduhan, di mana saat jalan-jalan itu perasaan bukan hanya senang-senang saja tapi cape banget guys (itu yang ngga dilihat orang), dan perasaan tidak sebebas kalau jalan-jalan sendiri.  Makanya gue salut deh sama keluarga yang bisa ngehandle masalah tanpa harus ada perpecahan terlebih dah...

Doa Baik

Gue selalu bersyukur, di waktu terpuruk gue masih dikelilingi orang-orang baik yang mengirimkan doa baik. Entah apa jadinya kalau gue benar-benar sendiri. Gue pasti sudah kehilangan arah.  Gue ngga tau fase apa yang sedang gue alami sekarang. Karena pattern gue dengan orang lain benar-benar berbeda. Gue mengambil jalur berliku untuk mencapai tujuan gue. Dan melihat teman-teman lainnya sedang berlarian menuju harapan mereka masing-masing.  Gue tau, secape apapun ya harus tetep dijalanin. Itulah bentuk profesional dalam menjalani hidup sebagai orang dewasa. Apapun itu, setidaknya gue sudah berusaha sekeras yang gue bisa. 

H+1 Lebaran 2022

Sama persis seperti lebaran-lebaran sebelumnya, keesokan hari setelah lebaran adalah hari nyuci sedunia. Dan hari makan apapun terutama ngerujak atau makan bakso di siang hari. Gue tumbuh dari keluarga yang tinggalnya tidak terlalu berjauhan dengan saudara lainnya. Di sisi lain membuat gue tidak perlu kesana kemari sibuk berlebaran, walaupun dari dulu pengen banget ngerasain namanya mudik bareng keluarga. Sekalinya jadi anak rantau 9 tahun di Jakarta, mudik pun cuma berdua dengan kakak gue menggunakan sepeda motor. Daripada memikirkan hal yang tidak pasti tentang hidup, rasanya Allah kasih waktu buat gue menikmati setiap momen kecil bareng keluarga yang tidak bisa dirasakan oleh beberapa orang lain. Gue tidak memikirkan pergi berlibur ke tempat wisata atau apapun, karena hanya dengan membayangkannya saja gue sudah malas bermacet-macet ria. Jiwa mageran gue semakin kesini semakin akut deh kayaknya. Gue ngga akan melakukan sesuatu kalau itu ngga ada manfaatnya. Ngga ada pengaruhnya untuk...

Eid Mubarak 1443 H

Selamat hari raya idul fitri, semoga kita kembali menjadi pribadi yang suci, karena momen ini sangat tepat untuk introspeksi diri. Bagaimana sebulan puasa kemarin? Kebaikan apa saja yang sudah dilakukan? Nafsu apa yang sudah bisa dikendalikan? Dan perubahan-perubahan signifikan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Setelah lebaran, harusnya kebiasaan-kebiasaan di bulan ramadhan tetap dijalankan. Menahan hawa nafsu, memperbanyak tadarus qur’an, menjaga mulut untuk tidak berghibah dan masih banyak hal yang sudah baik dilakukan, justru seringnya hilang setelah ramadhan selesai. Dari malam takbiran kemarin gue bilang, kalau gue merasa “hampa”, gelisah, nggak tenang. Entah kenapa. Sampai pagi datang pun, perasaan tidak nyaman itu masih saja gue rasakan. Gue takut terjadi hal yang tidak-tidak. Tapi alhamdulillah tidak ada kejadian buruk, selain listrik di rumah gue mati sampai sore hari. Gue tau ini bukan kebetulan, ini adalah cara Allah menguji kesabaran keluarga gue khususnya gue. Ujian ta...

29 Ramadan 1443/2022

Hari keduapuluh sembilan, dan besok dinyatakan 1 Syawal 1443 atau lebaran. Entah kenapa dari mulai bergemanya takbir, gue merasa kosong. Hati dan pikiran gue melayang entah kemana. Ada sepi yang merangsek, dan kekacauan perasaan yang ngga bisa gue jelaskan kenapa. Gue harap cuma karena gue sedih ngga bisa menikmati puasa di hari terakhir dan takut ngga bisa ikut solat id besok pagi. Beberapa tahun terakhir, hp gue sepi dari chat-chat permohonan maaf dan ucapan Idul Fitri. Selain karena gue yang sudah “malas” mengirim chat basa basi permintaan maaf, mungkin beberapa teman menganggap akun WhatsApp gue seperti mati suri karena ketiadaan profile picture dan jarangnya update story , itu hanya dugaan gue. Di satu sisi gue sudah lelah mengejar dunia, gue merasa tidak punya ambisi apa-apa, ingin menjadi apa. Tapi di sisi lain, kelelahan gue dikarenakan berkali-kali dikecewakan ekspektasi. Yep, ekspektasi membunuhku. Bukan raga, tapi jiwa. Gue selalu berusaha berkeyakinan, satu-satunya yang m...

28 Ramadan 1443/2022

Hari keduapuluh delapan, dan gue banyak skip cerita seminggu terakhir. Fisik dan mental gue terkuras banyak. Kejadian demi kejadian membuat gue berpikir ulang, apa rencana Allah buat gue sehingga penantian ini rasanya kok panjaaaaaaaang banget sampe ngga bisa dijelasin lagi capenya. Kadang gue berpikir bahwa silih bergantinya cobaan adalah cara Allah mencuci dosa-dosa yang sudah gue lakukan. Akhir-akhir ini gue ngerasa gelisah, sering ngga enak hati sampe harus istigfar berkali-kali. Biasanya ketika perasaan gue ngga tenang, gue selalu nanya kabar orang rumah. Takut ada apa-apa. Tapi sekarang, gue tinggal sama mereka. Dan gue pastikan setiap harinya hidup gue dan keluarga tidak ada ancaman besar. Gue bingung, kegelisahan apa yang gue rasakan? Perasaan tidak enak karena apa? Cape memikirkan apa? Bingung banget, asli ngga boong. Seminggu terakhir gue belajar dari kegiatan gue praktek atau bisa disebut jadi relawan di salah satu panti jompo. Kenapa relawan? Karena gue ngga dibayar, hehe. ...

21 Ramadan 1443/2022

Hari keduapuluh satu, dan alhamdulillah bisa makan Marugame Udon lagi setelah puluhan purnama. Kemarin hari terakhir berpikir-pikir ria setelah 2 minggu kerjaannya Google/Zoom meeting. Untuk setiap keadaan yang terjadi sekarang, banyak hal yang harus di ngga apa-apain. Tiap hari silih berganti datang kabar baik dan buruk. Entah apakah buruk namanya, yang gue tau kabar itu tidak berpihak pada gue. Gue tau, pattern hidup orang beda-beda. Kalo overthinking terus, kayaknya hidup nggak pernah kerasa adil. Ada baiknya kita jadi cuek aja yaudah. Saking cueknya sama keadaan, kadang pas momen sedih tuh nggak bisa nangis.  Yaudah itu aja.

19 Ramadan 1443/2022

Hari kesembilanbelas, dan cobaan dimulai dari bangun tidur. Yups, makanan sahur yang harusnya dikirim dari setengah 4 baru dateng setelah shubuh 🙂 Oke, gue dan lainnya mencari solusi dengan makan makanan yang ada. And after that , beberapa jam dikasih santai bentar dan setelahnya dikasih cobaan kesabaran lainnya. Perkara Gocar yang nggak ada yang ambil sampe hampir satu jam udah menguras kekesalan dalam hati gue. Di situ gue mengingat-ngingat dosa apa yang udah gue lakuin hari ini. Cuma bisa istigfar, terus nyoba ngegali lagi stok sabar. Yuk bisa yuk, dikiiiit lagi.

18 Ramadan 1443/2022

Hari kedelapan belas, dan berasa capeeeee banget. Alhamdulillah sih masih dikasih kesibukan, jadi waktu nggak berasa. Apalagi kalo dijalaninnya bareng temen-temen seperjuangan.  Di momen ini, berasa banget otak sama mental terkuras. Selain itu, uang, waktu dan tenaga juga terkuras. Kayaknya, semua yang ada di diri ini kerja rodi. Tapi nggak boleh nyerah, karena perjalanan semakin dekat dengan tujuan. Gue cuma berharap kesulitan-kesulitan yang sekarang lagi dihadapi jadi bekal di kehidupan yang akan datang. Karena gue yakin dengan pepatah;  “Pelaut yang tangguh tidak terbentuk dari ombak laut yang tenang.”

17 Ramadan 1443/2022

Hari ketujuhbelas ramadan, dan hari ini kerasa berat banget setelah hari kemarin dirasa sangat ringan. Subhanallah banget ya, hidup emang naik turun kaya hasil EKG (Elektrokardiogram).  Huft, cuma bisa istighfar sama kelakuan manusia. Mungkin gue pernah semenyebalkan itu di hidup orang lain, sampe di titik ini ada aja kelakuan manusia lainnya yang menguji kesabaran. Dari momen hari ini gue belajar, ketika kita diberi tanggung jawab untuk meng handle sesuatu atau sebuah kelompok ya harus all out. Jangan sampe orang lain ngerasa dirugikan karena kita lepas tanggung jawab. Dan hal penting lainnya adalah koordinasi dan komunikasi. Banyak hal yang missed karena kurangnya koordinasi dan komunikasi. Dari momen hari ini juga gue belajar bahwa semua hal harus dihadapi dengan tenang, terlebih ketika orang lain menganggap kita yang paling dewasa dan dipercaya sebagai leader . Pagi tadi juga gue mendapat tamparan keras dari video yang lewat dari sebuah platform media sosial. Yang mana inti ...

15 Ramadan 1443/2022

Hari kelimabelas dan prlajarn yang bisa diambil adalah, nikmati prosesnya. Kita nggak pernah tau waktu terbaik untuk mendapatkan yang sudah kita usahakan itu kapan. Tugas kita cuma berusaha, berdoa, tawakal.  Bahkan, seringnya sesuatu yang sudah kita ikhlaskan apapun hasilnya malah jadi kabar indah. Saking indahnya, kita sampai bingung mau mengucap syukur dengan bentuk apa lagi.  Semoga lelah ini menjadi berkah.

13 Ramadan 1443/2022

Hari ketigabelas dan akhirnya makan bakso di bulan ramadan. Enggak ada yang spesial, cukup martabak aja yang spesial.

12 Ramadan 1443/2022

Hari keduabelas puasa, dan 2 hari kemaren skip kelupaan nulis. Di hari kesekian puasa, dan di Jakarta. Gue belajar bahwa apa-apa yang dikerjakan tanpa mengharapkan apa-apa rasanya terasa cepat. Selain harapan-harapan baik yang selalu terpanjat, juga doa-doa baik untuk orang terkasih yang jauh di sana. Gue mulai membiasakan diri dengan hidup yang tidak pernah muluk-muluk ingin ini dan itu. Gue juga belajar mengambil pelajaran-pelajaran dari kisah-kisah orang sekitar. Bahwa apa-apa yang perlu dijalani, ya jalani aja. Apa-apa yang perlu dilepas, ya lepas aja. 

9 Ramadan 1443/2022

Hari kesembilan puasa, dan tidur gue gak stabil. Lebih tepatnya gak bisa lama-lama tidur kaya di rumah 😅 Disyukuri aja, masih dikasih kesibukan. Ilmu baru, obrolan dengan teman-teman yang udah lama nggak ketemu. Kalo dilihat dari POV positif, selalu ada hal baik dari setiap kejadian. Tapi ya itu tadi, kontrol perasaan harus tetap nomor satu. Kebahagiaan itu selalu diiringi dengan kesedihan. Jadi, biar nggak terlena-terlena amat, gue selalu menaruh batasan untuk segala bentuk euforia kabar bahagia. Atau tidak terlalu mendramatasir kesedihan. Yang akhirnya, ya hidup gue seperti tidak ada beban (menurut orang lain).