Postingan

Perempuan di Jepang

2 hal yang mau gue highlight di cerita kali ini karena gue melihat dengan mata kepala gue langsung. Di mana, perempuan di Jepang itu bener-bener punya kemandirian yang sangat patut diacungi jempol. Sebelumnya gue juga sudah pernah mendengar beberapa cerita bahwa, lansia di Jepang itu diberi fasilitas atau minim bantuan agar mereka bisa beraktifitas sebagaimana mestinya. Ngga bergantung harus dibantu oleh anak atau perawat. Nah gue langsung melihat hal itu di sini, di Jepang ini. Jadi, gue melihat kalau ibu dari pimpinan kumiai gue itu masih menyetir mobil sendiri dan bahkan gue yang melihat dia itu reflek bilang “wiz gila keren amat nenek itu nyetir mobil Mercy-nya”. Yaa gue ngga tau kalo di Indo ada juga hal seperti itu atau gue yang ngga pernah liat, jadi bikin gue ngerasa “amazed” aja gitu.  Dan kejadian sebelumnya ketika gue melihat dari lantai 3, di bawah ada mobil (semacam Alphard) gede gitu, keluarlah seorang ibu dan 1 anak laki-laki pakai seragam (habis pulang sekolah), ana...

Hari ke-30 di Jepang

Setelah minggu lalu gagal jalan-jalan, akhirnya kemarin dari pihak kumiai kembali mengajak gue dan teman-teman di sini jalan-jalan. Yups, seperti turis lainnya kita pun berfoto dan mengagumi tempat yang kami kunjungi. Sebetulnya minggu lalu kami sudah sampai di salah satu kuil terkenal di Himeji. Namun, karena satu dan lain hal kami hanya sempat mengabadikan beberapa foto dan kembali ke asrama. Sebagai gantinya, kemarin kami pergi ke Planetarium Himeji dan Aquarium Himeji. Di Planetarium kami hanya diberi suguhan seperti menonton di ruangan bioskop sambil meihat benda-benda langit. Jujur tadinya gue excited karena gue sangat suka pemandangan benda-benda langit. Tapi, karena bahasa yang digunakan Bahasa Jepang dan narasinya tentang rasi bintang dan legenda Yunani gue dan teman-teman gue sempat ketiduran di pertengahan penjelasan. Karena memang vibesnya bikin ngantuk parah sih. Hehe. Setelah dari Planetarium kita pergi makan siang dan diajak ke tempat makan “Udon”. Seperti Marugame Udon ...

Menciptakan Tempat Nyaman

Setelah 13 hari di Tatsuno, gue pindah ke Takasago. Tempatnya tidak seindah dan senyaman di Tatsuno. Karena harus tinggal satu atap dengan kantor kumiai. Namun, karena hidup bukan selalu tentang apa yang diinginkan. Gue belajar beradaptasi di manapun tempat gue tinggal. Karena toh, di sini juga masih sementara sebelum akhirnya gue penempatan di Kobe. Hari ini ada kabar duka lagi. Bapak dari salah satu teman dekat gue meninggal. Dan tentu itu kabar yang mengejutkan, karena teman gue resmi menjadi anak yatim piatu. Gue ngga bisa bayangin jadi dia. Gimana terpukulnya ketika satu satunya juga harus pergi menyusul kepergian ibunya beberapa tahun lalu. Itu kenapa, gue tidak diberi ujian seperti teman gue itu, karena gue tidak akan sekuat dan setabah dia. Allah tau gue masih lemah. Masih jauh dari tingkatan level sabar dan ikhlas. Karena sedikit masalah saja udah buat gue overthinking. Ya Allah, apapun yang engkau kehendaki semoga hamba juga bisa menerima.

Hikmah Dari Setiap Kejadian

Sore ini gue dapet kabar duka. Salah satu teman seperjuangan berpulang. Gue tidak tau banyak apa penyebabnya, namun gue mengambil kesimpulan bahwa memang sudah jalan-Nya. Life must go on. Gue ditampar lagi oleh kenyataan, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semoga almarhum (yang baru usia 20+ tahun) diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin.  Malam ini gue melihat bulan purnama dari jendela kamar, dan diiringi suara kodok yang bersautan. Ini malam terakhir gue di Tatsuno karena harus pindah lagi tempat tinggal (sementara juga). Tapi tempat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan sebenarnya. Kesan pertama tiba di Jepang dengan tinggal di sini adalah seperti masuk ke dunia kartun Jepang yang gue tonton. Tentu saja ini hal yang menyenangkan dan sulit dilupakan. Mengingat tempat tinggal sementara yang nanti akan ditempati berbeda jauh seperti rumah di Tatsuno ini. Bakalan kangen banget sih sama suasana di sini 🥹 B...

Hari kedelapan

Gak berasa udah hari kedelapan di Tatsuno, Hyogo-ken, Jepang. Alhamdulillah sejauh ini proses pembelajaran lancar. Dikasih temen-temen yang suportif, saling bantu, bisa diajak kerjasama. Sebenarnya masih ada rasa gugup sebelum gue bener-bener bisa sampe di tempat kerja. Menghadapi langsung dunia kerja yang sebelumnya ngga pernah gue bayangin akan melakukannya. Gue sempat berada di fase sedih, ngerasa apa yang udah gue jalani selama hampir 2tahun ini percuma. Tapi Allah masih aja ngasih jalan sampe gue berada di titik ini. Gue tau, ngga ada yang akan baik-baik saja. Pasti akan selalu ada ujian lagi dan lagi. Tapi itulah kunci dari “kenapa kok Aas bisa kuat banget?” Suatu saat, ketika gue menempati tempat tinggal gue untuk tiga tahun kedepan, gue akan merindukan desa yang bernama Tatsuno ini. Banyak memori-memori tentang tontonan kartun jaman gue kecil bermunculan karena banyaknya kesamaan ketika gue tinggal di sini. Mulai dari suara burung gagak yang sesekali berbunyi ketika suasana sen...

Hari Ketiga di Rumah Nobita

Yep, sebagai anak 90-an gue sangat relate sama rumah-rumah yang ada di Jepang termasuk rumah yang sedang gue tempati. Halaman samping rumah tempat Nobita ketemu neneknya (Doraemon ; Stand By Me ) adalah tempat favorit gue. Apalagi mulai hari ini sampai seminggu kedepan cuacanya akan mendung dan hujan. Pagi tadi sudah mulai hujan, dan gue betah berjam-jam duduk melamun atau scroll hp sambil tiduran. Tempat ini tenang, dan gue merasa sangat cocok karena gue kurang begitu suka dengan lingkungan yang bising. Iya iya, si paling introvert . Hehe. Ah, alhamdulillah gak berhenti gue bersyukur untuk kesempatan yang Allah kasih ke gue buat sampai di titik ini.

Hari Kedua di Negeri Matahari Terbit

Hari kedua di Jepang berasa udah betah aja deh. Mulai dari tempat tinggal, orangnya, lingkungannya yang kebetulan dapet tempat di pedesaan dan segala hal yang ada di Jepang. Eh tapi pedesaan di Jepang itu beda jauh sama Indo. Di sini walaupun dikelilingi sawah, pegunungan, tapi jalanan tetap bagus, lampu lalu lintas tetap ada, Konbini (Mini Market) atau ke Supa (Supermarket) juga kejangkau bisa pake sepeda. This is what I want. Walaupun ini masih belum tempat menetap gue untuk beberapa tahun, tapi gue sudah merasa sangat familiar. Entah karena panjangnya penantian gue selama ini, atau memang usia gue sudah bisa dikatakan bisa cepat beradaptasi. Terlebih lagi, untuk beberapa makanan yang rasanya bukan Indonesia banget (gak banyak rempah), gue juga menikmati makanan yang selalu disiapkan.  Hari kedua di Jepang, kita belajar mata uang Jepang (Yen) dan belajar belanja ke Supa, beli kebutuhan masak dan beli cemilan. Sorenya gue dan teman-teman lainnya diajak sepedahan. Banyak banget ha...

Juli, di Negara Lain

Setelah hampir 2 tahun menyimpan rencana ini rapat2 kecuali pada orang terdekat. Akhirnya gue membuat postingan bahwa gue sudah tiba di Jepang. Walaupun gue belum sempat menjawab semua pertanyaan yang masuk melalui DM, dan menceritakan secara detail bagaimana awal mula keputusan ini muncul dan betapa panjang prosesnya. Mungkin suatu saat gue akan menceritakannya.  Alhamdulillah, atas izin Allah dan restu Bapak dan Mama juga anggota keluarga yang lainnya. Gue sampai di titik ini. Di tempat yang mungkin dulu pernah gue inginkan untuk dikunjungi tapi tidak untuk rencana tinggal lama. Tapi Allah Maha Membolak Balik Hati manusia dan Maha Perencana Terbaik, akhirnya gue mengikuti alurnya saja. InsyaAllah rencana tinggal selama 3 tahun semoga diberi kemudahan dalam segala hal. Aamiin.

Berhenti, Untuk Berlari

Seorang teman pernah berkata bahwa keputusan gue meninggalkan zona nyaman adalah hal yang luar biasa. Ketika teman lainnya takut untuk meninggalkan tempat ternyaman mereka, gue seperti pelopor untuk beberapa teman lainnya mengambil jalan yang hampir sama.  Tidak ada jaminan bahwa kehidupan yang gue perjuangkan akan lebih baik nantinya, tapi bukankah Tuhan menjanjikan balasan yang sepadan untuk hamba yang mengubah nasibnya? Gue bukan muslim yang islami-islami banget, tapi gue yakin bahwa segala niat baik akan berbuah baik. Memang prosesnya panjang dan melelahkan, karena begitulah seni dalam menjalani hidup. Toh pada kenyataannya gue semakin kuat karena sering ditempa.  Biar orang lain taunya gue berhenti untuk beberapa macam rutinitas yang gue jalanin beberapa tahun kebelakang, dan biar juga mereka terkejut akan kabar larinya gue di kehidupan yang “semoga” lebih baik nantinya.

Jumat Berkah

Bukan hanya Jumat, gue selalu berharap bahwa setiap hari atau bahkan setiap detik merupakan berkah dari Allah. Tapi sayangnya, di hari Jumat ini gue sudah menangis dari pagi. Karena melihat VT tentang hilangnya Eril (anak pertama Ridwan Kamil). Gue pernah menulis keresahan ini di blog beberapa hari lalu. Intinya, sudah seminggu Eril tidak kunjung ditemukan di sungai Aare Swiss, akhirnya keluarga melepas dengan ikhlas dan mengumumkan bahwa Eril telah meninggal tenggelam. Tidak ada yang pernah siap menghadapi kehilangan, terlebih di usia yang masih begitu muda dan sosok Eril diyakini sebagai orang baik yang dapat meneruskan ayahnya sebagai pemimpin. Tapi, bukannya kita selalu diingatkan bahwa orang baik selalu punya waktu yang lebih cepat untuk menghadap Allah SWT?  Terlepas dari itu, sampai jenazah belum ditemukan masih terbersit harapan meskipun kecil semoga ada keajaiban yang masih ditunggu-tunggu. Namun sebagai pembelajaran dari kasus ini, tetaplah fokus menjadi manusia baik . Ka...

Pertama di Pertengahan

Hari pertama di pertengahan tahun disambut dengan tanggal merah. Alhamdulillah dikasih kesempatan libur, buat leyeh-leyeh. Alhamdulillah pagi-pagi bisa makan bubur yang enak di dekat tempat tinggal. Alhamdulillah bisa mandi pagi tanpa antri. 3 hal kecil yang mau gue syukuri di hari yang cerah ini. Dari sekian banyak kejadian demi kejadian gue masih terus belajar. Belajar untuk terus berfikir positif supaya apa yang dikeluarkan isi hati dan kepala bisa bekerja sama dengan takdir baik yang masih bisa diubah. Belajar untuk menerima dari hal-hal sulit yang dihadapi. Belajar untuk terus berjalan walau terseok, asal jangan berhenti. Gue tau betul, bahwa setiap ketidakikhlasan gue hanya memberatkan langkah gue saja dan menahan segala bentuk kebaikan yang datang dari berbagai penjuru. Maka dari itu, gue belajar yakin dan terus yakin meski harus sedikit demi sedikit. Belajar tidak membandingkan dengan hidup orang lain. Karena pada kenyataannya, everyone has struggle with their own lifes . Kita ...

Melepas

Ternyata apa-apa yang terjadi selalu berkaitan dengan perkara melepas. Terlebih di setiap fase hidup yang kita jalani. Entah melepas seseorang, kenangan, mimpi dan cita-cita atau perasaan sedih dan lainnya. Hari ini gue harus belajar lagi cara melepas. Melepas sesuatu yang berharga berupa waktu kebersamaan untuk kehidupan “yang gue harap” lebih baik kedepannya. Memang tidak ada jaminan berhasil, tapi Tuhan berjanji akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut berusaha mengubahnya.  Di usia yang terbilang dewasa seperti sekarang, gue harus tau bahwa segala sesuatu yang kita impikan tidak semuanya bisa kita dapatkan bersamaan. Semua silih berganti, seperti rasa sedih dan bahagia. Begitu juga dengan hal-hal berharga yang ingin dituju juga harus mengorbankan hal-hal berharga yang kita punya sebelumnya. Bukan soal kurang bersyukur, tapi memang kita harus tau kapan saatnya mengembangkan diri dibanding berdiam diri di titik itu-itu saja. Gue tau, akan ada penyesalan nantinya. Tapi gu...

Penerimaan

Beberapa hari terakhir gue lagi melow. Mungkin emang lagi masa PMS kali ya, jadi rasanya selalu ngga karuan. Gue tau siklus ini terus berulang setiap bulannya. Tapi keresahan yang gue alami selalu membuat gue ngga nyaman. Ditambah lagi, 2 minggu ini badan gue lagi ngga bisa diajak kompromi. Perasaan sakit di badan terus silih berganti, mulai dari radang, ganti batuk, terus ditambah badan pegel-pegel, alergi yang ngga berkesudahan, demam kadang sembuh kadang kumat sampai pada akhirnya gue harus pergi ke Bidan langganan gue di deket rumah dan meminum berbagai macam obat. Literally macam-macam (5 macam obat). Huft. Di rumah, keponakan gue juga sakit. Waktunya pun sama. Dan sama seperti gue, keponakan gue sakit ngga sampe tepar banget tapi ya batuk dan pilek bergantian gitu. Namanya anak kecil sakit dikit pasti kan rewel ya, dan lebih kasian aja kalo liat anak kecil sakit 😔 Selain karena siklus PMS, kayaknya perasaan gue bercampur aduk dengan rencana kepergian gue untuk kembali merantau. ...

Akhirnya Selesai

1 minggu materi online, 1 minggu materi offline dan praktek lab, 2 minggu terjun langsung ke lapangan. Akhirnya satu bulan selesai sudah proses ini. Banyak banget yang bisa diambil, terutama belajar sabar dan penerimaan yang baik di 2 minggu praktek di panti. Lelah, sudah jelas. Ngga ada hidup yang ngga melelahkan. Tapi belum sampai situ Ferguso. Masih ada tahap selanjutnya, dan lebih panjaaaaang sekali. Masih harus dipanjangkan lagi sabarnya, ikhlasnya, penerimaannya. Entah hadiah apa yang ada di masa depan atas ujian-ujian yang udah gue lakuin ini. Semoga selalu ada hal-hal baik dari niat-niat baik. Aamiin.

Apakah Salah Jalan?

Perjalanan gue sudah sejauh ini, kalau disuruh puter balik beneran jauuuuuuh banget. Abis bensin, tenaga, waktu dan segala macem. Kadang gue juga takut, ragu, berpikir kembali apakah jalan yang sudah gue pilih adalah benar? Sesuai tujuan?  Entahlah, sayangnya perjalanan kehidupan ngga sama kaya jalanan di dunia nyata. Ada puter baliknya, kalau salah jalan bisa tanya orang atau pake Google Maps . Kalau yang namanya perjalanan kehidupan, udah diambil ya gue harus jalanin sampe mentok sampe beneran ngga ada jalan lagi dan muncul pilihan-pilihan lain. Ketika perjalanan gue dirasa ngga berhenti-berhenti, ya gue tinggal nambah bekal semangat dan harapan buat terus lanjutin ini semua. Ketika semua bekal itu habis, istirahat bentar. Isi ulang lagi dengan mereview apa aja yang udah dilakuin, dihabisin, dan perlu apa lagi buat lanjutin perjalanan. Perlu ninggalin apa biar perjalanan selanjutnya ngga terlalu banyak beban, atau perlu ngajak teman perjalanan biar ada teman.  Di usia dewas...

Movie Marathon

Yep, hari ini gue movie marathon. Pertama, Gara-gara Warisan yang disutradarai Muhadkly Acho dan diproduseri oleh Ernest Prakasa. Tipikal film Ernest banget kalo kata orang-orang. Dari cerita, karakter, komedi dan apalah itu yang gue ngga begitu paham. Tapi pas gue nonton ternyata ngga sebagus itu. Well , mungkin ini soal selera. Tapi gue nggak seceria itu nontonnya. Banyak hal yang menurut gue dipaksakan. Ceritanya terlalu dramatisir, dan ngga tau kenapa ya menurut gue ngga enjoy aja dari awal sampe akhir. Scene-scene yang gue suka ya pas para karyawan Guest House nya aja. (6/10) Kedua, Doctor Strange - Multiverse of Madness . 6 tahun setelah film pertamanya yang sukses dan menjadi pahlawan baru setelah Iron Man, jujurly gue kecewa. Semenjak era Avangers End Game , banyak cerita lanjutan yang terlalu dipaksakan menurut gue. Spiderman 3 akhir tahun lalu aja gue kecewa, terus dilanjut sama Doctor Strange 2 ini. 2 jam nontonin ego seorang Wanda dan bucinnya Doctor Strange. Hmm. (6,5/...

Riweuh is my life

Gue salut deh ngeliat keluarga yang kompak, yang saling mengingatkan dengan nada biasa. Entah kenapa, setiap pergi full team (kelurga inti) pasti ada aja sesuatu yang berjalan tidak sesuai rencana. Dan ketika itu terjadi, keriweuhan dimulai. Satu sama lain saling berbicara dengan nada tinggi. Gue trauma untuk bisa mengajak pergi jalan-jalan keluar kota. Hal itu juga terjadi ketika akhir tahun 2016 kita pergi ke Yogyakarta menggunakan mobil. Yang pada akhirnya ada perselisihan antara gue dan kakak gue. Hal itu membuat gue lebih menyukai jalan-jalan tanpa keluarga. Karena gue tipikal orang yang sat set (apa-apa cepet), sedangkan jalan-jalan bareng keluarga banyak yang harus diurus, gue tidak suka kegaduhan, di mana saat jalan-jalan itu perasaan bukan hanya senang-senang saja tapi cape banget guys (itu yang ngga dilihat orang), dan perasaan tidak sebebas kalau jalan-jalan sendiri.  Makanya gue salut deh sama keluarga yang bisa ngehandle masalah tanpa harus ada perpecahan terlebih dah...

Doa Baik

Gue selalu bersyukur, di waktu terpuruk gue masih dikelilingi orang-orang baik yang mengirimkan doa baik. Entah apa jadinya kalau gue benar-benar sendiri. Gue pasti sudah kehilangan arah.  Gue ngga tau fase apa yang sedang gue alami sekarang. Karena pattern gue dengan orang lain benar-benar berbeda. Gue mengambil jalur berliku untuk mencapai tujuan gue. Dan melihat teman-teman lainnya sedang berlarian menuju harapan mereka masing-masing.  Gue tau, secape apapun ya harus tetep dijalanin. Itulah bentuk profesional dalam menjalani hidup sebagai orang dewasa. Apapun itu, setidaknya gue sudah berusaha sekeras yang gue bisa. 

H+1 Lebaran 2022

Sama persis seperti lebaran-lebaran sebelumnya, keesokan hari setelah lebaran adalah hari nyuci sedunia. Dan hari makan apapun terutama ngerujak atau makan bakso di siang hari. Gue tumbuh dari keluarga yang tinggalnya tidak terlalu berjauhan dengan saudara lainnya. Di sisi lain membuat gue tidak perlu kesana kemari sibuk berlebaran, walaupun dari dulu pengen banget ngerasain namanya mudik bareng keluarga. Sekalinya jadi anak rantau 9 tahun di Jakarta, mudik pun cuma berdua dengan kakak gue menggunakan sepeda motor. Daripada memikirkan hal yang tidak pasti tentang hidup, rasanya Allah kasih waktu buat gue menikmati setiap momen kecil bareng keluarga yang tidak bisa dirasakan oleh beberapa orang lain. Gue tidak memikirkan pergi berlibur ke tempat wisata atau apapun, karena hanya dengan membayangkannya saja gue sudah malas bermacet-macet ria. Jiwa mageran gue semakin kesini semakin akut deh kayaknya. Gue ngga akan melakukan sesuatu kalau itu ngga ada manfaatnya. Ngga ada pengaruhnya untuk...

Eid Mubarak 1443 H

Selamat hari raya idul fitri, semoga kita kembali menjadi pribadi yang suci, karena momen ini sangat tepat untuk introspeksi diri. Bagaimana sebulan puasa kemarin? Kebaikan apa saja yang sudah dilakukan? Nafsu apa yang sudah bisa dikendalikan? Dan perubahan-perubahan signifikan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Setelah lebaran, harusnya kebiasaan-kebiasaan di bulan ramadhan tetap dijalankan. Menahan hawa nafsu, memperbanyak tadarus qur’an, menjaga mulut untuk tidak berghibah dan masih banyak hal yang sudah baik dilakukan, justru seringnya hilang setelah ramadhan selesai. Dari malam takbiran kemarin gue bilang, kalau gue merasa “hampa”, gelisah, nggak tenang. Entah kenapa. Sampai pagi datang pun, perasaan tidak nyaman itu masih saja gue rasakan. Gue takut terjadi hal yang tidak-tidak. Tapi alhamdulillah tidak ada kejadian buruk, selain listrik di rumah gue mati sampai sore hari. Gue tau ini bukan kebetulan, ini adalah cara Allah menguji kesabaran keluarga gue khususnya gue. Ujian ta...