Postingan

Pulang Kemana?

Hari ini, gue meredefinisi makna “pulang”. Setelah semalam gue melihat video tentang rumah dan pulang, beberapa jam kemudian (paginya) ada kejadian yang membuat gue merombak definisi pulang di dalam otak gue. Isi videonya kurang lebih seperti ini; “Manusia tuh harus belajar dari keong, karena dia punya rumahnya sendiri untuk pulang. Intinya jangan menjadikan orang lain tempat pulang. Misalnya teman tongkrongan adalah tempat pulang gue, bisa jadi beberapa tahun ke depan udah gak bisa nongkrong lg kaya dulu. Atau menjadikan pacar sebagai tempat pulang, bisa jadi nanti putus.” Intinya ya lebih baik definisi pulang itu lebih dalam lagi, bukan cuma di hubungan yang beberapa saat. Tapi, pagi ini gue bahkan tidak bisa menyebut kalau “rumah” adalah tempat pulang gue. Gue sadar bahwa tempat pulang terbaik adalah diri sendiri. Bahkan keluarga atau sahabat terdekat pun gak selalu ada buat gue, apalagi mengerti tentang apa yg gue bener-bener rasain. Ada rasa kecewa? Tentu. Siapa yang sangka bahwa ...

Kalau Ingin Menyerah, Coba Baca Ini

Kalau lapar, makan Kalau haus, minum Kalau ngantuk, tidur Kalau cape, istirahat Tapi jangan berhenti AN✨

Gagal? Coba Lagi

Berbicara tentang gagal, rasanya 10 tahun terakhir adalah masa-masa trial error terbanyak gue deh. Kita mulai dari gagalnya gue masuk PTN, berkali-kali lamar kerja kesana kemari, patah hati karena putus hingga menyebabkan trust issue , kerja 5 tahun lebih tapi terus menerus status kontrak, sampai keberangkatan ke Jepang pun gue berkali-kali gagal tes di level N4. Hari ini adalah pengumuman hasil tes N3. Gimana hasilnya? Yup, bisa ketahuan dari judul blog ini. Gagal lagi. Tapi gue sudah mempersiapkan perasaan ini dari setelah selesai tes. Gue memang belum sekeras itu belajarnya, belum sebesar itu usahanya, belum semaksimal mungkin menggunakan otak gue yang “gak jenius” ini. Jadi, inilah hasil yang harus gue tanggung. But it’s okay, don’t worry bout me . Saking seringnya gagal, gue sudah berteman akrab dengan kata itu. Kata yang membuat sebagian orang down , tapi buat gue ingin menantang balik kegagalan itu sendiri. Gue akan membuat “si gagal” menyerah kepada gue dan bertekuk lutut samb...

29 Tahun

Halo, kemarin tepat usia gue menginjak 29 tahun. Di antara kisah hebatnya pekerjaan teman-teman gue, kehidupan rumah tangga mereka dan berbagai pencapaian-pencapaian di usia 29 tahun, gue baru memulai lagi langkah baru. Langkah yang sebetulnya gue pikir adalah hal nekat, tapi pada hakikatnya ini sudah tercatat di rentetan takdir gue.  29 tahun yang tidak mudah, jatuh bangun, canda tawa hingga duka dan lara yang tentu saja silih berganti dalam perjalanan sampai di usia ini. Beberapa tahun ke belakang sebetulnya gue “ tidak suka hari ulang tahun gue sendiri .” Karena gue harus menghadapi bahwa usia gue semakin menua dan itu sesuatu yang sulit dijelaskan bagaimana rasanya. Tapi tahun lalu, gue mendapat kejutan tumpeng dari keluarga gue karena mereka berkeyakinan bahwa ulang tahun berikutnya gue sudah berada di Jepang. Dan itu betul adanya. Tahun ini gue mendapat kejutan dari teman-teman serumah gue. Bukan hal yang besar, cukup perayaan dengan makan pizza dan kue pie coklat. Juga kado ...

Menjadi Dewasa Itu..

Menjadi dewasa itu, ngeluh soal kerjaan tapi tetep dilakuin sampe beres. Segimana capenya fisik sama pikiran, tapi karena berurusan dengan tanggung jawab akhirnya mau ngga mau diselesein. Ya kan😣 Yups, dan ternyata secara tidak sadar gue sudah belajar tentang arti dewasa dari sejak bertahun-tahun lalu, lupa kapan tepatnya. Gue menjalani hidup yang pilihannya banyak yg gue tidak suka. Gue tau gue gak suka, tapi gue tetep ambil pilihan itu. Detik hingga tahun demi tahun gue jalani. Sampai tiba titik jenuh dan gue mencari hal-hal baru. Menjadi dewasa itu, sibuk mengurusi hidup sendiri daripada orang lain. It’s my personal opinion. Entah pada dasarnya gue cuek atau gak pedulian ya, menurut gue hidup jadi orang dewasa itu sudah cukup berat jadi udah habis tenaga gue buat ngurusin hidup orang lain yang tidak berkontribusi apa-apa di hidup gue 😆 Menjadi dewasa itu, apalagi yaa?

2 Bulan Menuju 2023

Waktu cepat berlalu, luka juga sembuh satu persatu. Tapi bukannya hidup memang tentang naik turun ya? Bahagia dan sedih. Hidup juga tentang tinbang menimbang, mana yg kebaikannya lebih besar dan buruknya lebih sedikit. Hidup juga tentang berhenti untuk istirahat, dan kemudian menarik gas untuk kembali bergegas. Pada kenyataannya hidup tidak pernah berhenti. Karena jika sudah berhenti itu namanya, mati. Bulan ini ada kegelisahan yang kembali membayangi langkah gue. Rasa yang setahun lalu gue rasakan, tentang ketidaktahuan gue di masa depan. Dan harapan-harapan seseorang yang takut gue campakkan. Kadang gue sadar, seringnya tidak. Hmm. Hidup adalah perkara maju ke depan, bagaimanapun rintangannya ya hadapi saja. Toh ketika bertemu jalan buntu, ada saja jalan memutar bahkan berbelok-belok untuk sampai tujuan. Intinya adalah terus berjalan.  Gue sadar, tapi seringnya gue tidak sadar. Di akhir bulan Oktober ini gue mencoba memejamkan mata dan berkata lirih pada diri sendiri yang sudah b...

Terimakasih Pak, Bu

Barusan gue nonton salah satu video YouTube dari salah satu teman di FB. Gue ngga punya ekspektasi apa-apa selain melihat kembali guru SMA gue. Video ini adalah persembahan terakhir di masa purna bakti Bapak guru tersebut. Masa bakti di sekolah itu 35 tahun lamanya, dari 1987-2022. Lebih tua daripada usia gue, dan yang pertama bikin gue sedih bahkan nangis sampai akhir video adalah, betapa sederhana rumah dan motor bebeknya. Gue baru sadar, bahwa puluhan tahun menjadi guru tidak pernah menjadikan beliau kaya. Sedangkan anak didiknya sudah menjadi “orang” dengan berbagai profesi. Gue gak pernah dapet pelajaran beliau, tapi setelah melihat bagaimana rambutnya yang dulu hitam (10 tahun lalu) berubah menjadi putih. Sampai gue menulis ini, tangis gue masih belum bisa berhenti. Dada gue sesak. Nafas gue susah. Tissue gue habis.  Gue speechless . Gue ngga pernah habis pikir bagaimana profesi guru di negara ini sangat berbeda di negara-negara lain terutama Jepang. Yang gue tau, setelah Jep...

Hari Kedua di Bulan Sepuluh

Bulan ke-10 di tahun 2022. September kemarin terasa cepat karena banyak kegiatan yg gue lakukan. Gue kembali beraktifitas dengan rutinitas pekerjaan, sambil sesekali belajar dan pergi bermain ke luar. Bulan September kemarin gue bertemu kembali dengan teman yang sudah gue kenal selama 16tahun. What? 16 tahun. Berarti gue udah tua. Oke skip soal umur. Hmm Yang harus di-highlight adalah pertemuan gue dengan teman gue di negara yang gak disangka-sangka, yakni Jepang. 6 tahun lalu gue mengantarkan dia ke bandara, melepas dia untuk pergi ke Jepang sebagai perawat. Di akhir percakapan kami, dia berbisik “semoga cepet nyusul ke Jepang ya..” 2018 salah satu teman gue yg lainnya mengajak berlibur ke Jepang di tahun 2019. Karena satu dan lain hal gue mengurungkan niat untuk trip itu dan gagal lah gue bertemu Ayu (teman gue yg gue antar ke bandara). 2020 dia pulang untuk sementara waktu ke Indonesia, tapi karena sedang tingginya kasus Covid, akhirnya gue gagal lagi bertemu Ayu. Di tahun 2021 dia ...

Terima Kasih Agustus 2022

 Hari terakhir di bulan Agustus, which is 4 bulan lagi 2023.  Up an down banget bulan ini. Dikasih perusahaan enak, pemimpin yang baik banget, kehidupan yang semakin layak, tapi juga dikasih tau fakta tentang pengkhianatan seseorang yg gue percaya gak bakal ngelakuin itu, sampe gue merasakan lagi rasanya nangis nyesek dan tangan gemeter seharian. Asli tapi cuma sehari doang, selebihnya gue bangkit lagi dan mengembalikan ke setelan pabrik tentang hati dan pikiran gue.  Gue tau, berharap pada manusia adalah kesalahan terbesar. Dan gue belajar lagi tentang itu. Tentang bagaimana menganggap diri ini punya “value”. Bukan untuk ditunjukkan kepada orang lain, cukup untuk merasakan perubahan ke arah lebih baik setiap harinya ketika gue menatap cermin.  Gue semakin sadar, bahwa kebaikan sekecil apapun yg kita tanam akan kita tuai hasilnya. Entah dalam waktu dekat, atau nanti. Itu pasti.

Perempuan di Jepang

2 hal yang mau gue highlight di cerita kali ini karena gue melihat dengan mata kepala gue langsung. Di mana, perempuan di Jepang itu bener-bener punya kemandirian yang sangat patut diacungi jempol. Sebelumnya gue juga sudah pernah mendengar beberapa cerita bahwa, lansia di Jepang itu diberi fasilitas atau minim bantuan agar mereka bisa beraktifitas sebagaimana mestinya. Ngga bergantung harus dibantu oleh anak atau perawat. Nah gue langsung melihat hal itu di sini, di Jepang ini. Jadi, gue melihat kalau ibu dari pimpinan kumiai gue itu masih menyetir mobil sendiri dan bahkan gue yang melihat dia itu reflek bilang “wiz gila keren amat nenek itu nyetir mobil Mercy-nya”. Yaa gue ngga tau kalo di Indo ada juga hal seperti itu atau gue yang ngga pernah liat, jadi bikin gue ngerasa “amazed” aja gitu.  Dan kejadian sebelumnya ketika gue melihat dari lantai 3, di bawah ada mobil (semacam Alphard) gede gitu, keluarlah seorang ibu dan 1 anak laki-laki pakai seragam (habis pulang sekolah), ana...

Hari ke-30 di Jepang

Setelah minggu lalu gagal jalan-jalan, akhirnya kemarin dari pihak kumiai kembali mengajak gue dan teman-teman di sini jalan-jalan. Yups, seperti turis lainnya kita pun berfoto dan mengagumi tempat yang kami kunjungi. Sebetulnya minggu lalu kami sudah sampai di salah satu kuil terkenal di Himeji. Namun, karena satu dan lain hal kami hanya sempat mengabadikan beberapa foto dan kembali ke asrama. Sebagai gantinya, kemarin kami pergi ke Planetarium Himeji dan Aquarium Himeji. Di Planetarium kami hanya diberi suguhan seperti menonton di ruangan bioskop sambil meihat benda-benda langit. Jujur tadinya gue excited karena gue sangat suka pemandangan benda-benda langit. Tapi, karena bahasa yang digunakan Bahasa Jepang dan narasinya tentang rasi bintang dan legenda Yunani gue dan teman-teman gue sempat ketiduran di pertengahan penjelasan. Karena memang vibesnya bikin ngantuk parah sih. Hehe. Setelah dari Planetarium kita pergi makan siang dan diajak ke tempat makan “Udon”. Seperti Marugame Udon ...

Menciptakan Tempat Nyaman

Setelah 13 hari di Tatsuno, gue pindah ke Takasago. Tempatnya tidak seindah dan senyaman di Tatsuno. Karena harus tinggal satu atap dengan kantor kumiai. Namun, karena hidup bukan selalu tentang apa yang diinginkan. Gue belajar beradaptasi di manapun tempat gue tinggal. Karena toh, di sini juga masih sementara sebelum akhirnya gue penempatan di Kobe. Hari ini ada kabar duka lagi. Bapak dari salah satu teman dekat gue meninggal. Dan tentu itu kabar yang mengejutkan, karena teman gue resmi menjadi anak yatim piatu. Gue ngga bisa bayangin jadi dia. Gimana terpukulnya ketika satu satunya juga harus pergi menyusul kepergian ibunya beberapa tahun lalu. Itu kenapa, gue tidak diberi ujian seperti teman gue itu, karena gue tidak akan sekuat dan setabah dia. Allah tau gue masih lemah. Masih jauh dari tingkatan level sabar dan ikhlas. Karena sedikit masalah saja udah buat gue overthinking. Ya Allah, apapun yang engkau kehendaki semoga hamba juga bisa menerima.

Hikmah Dari Setiap Kejadian

Sore ini gue dapet kabar duka. Salah satu teman seperjuangan berpulang. Gue tidak tau banyak apa penyebabnya, namun gue mengambil kesimpulan bahwa memang sudah jalan-Nya. Life must go on. Gue ditampar lagi oleh kenyataan, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semoga almarhum (yang baru usia 20+ tahun) diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin.  Malam ini gue melihat bulan purnama dari jendela kamar, dan diiringi suara kodok yang bersautan. Ini malam terakhir gue di Tatsuno karena harus pindah lagi tempat tinggal (sementara juga). Tapi tempat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan sebenarnya. Kesan pertama tiba di Jepang dengan tinggal di sini adalah seperti masuk ke dunia kartun Jepang yang gue tonton. Tentu saja ini hal yang menyenangkan dan sulit dilupakan. Mengingat tempat tinggal sementara yang nanti akan ditempati berbeda jauh seperti rumah di Tatsuno ini. Bakalan kangen banget sih sama suasana di sini 🥹 B...

Hari kedelapan

Gak berasa udah hari kedelapan di Tatsuno, Hyogo-ken, Jepang. Alhamdulillah sejauh ini proses pembelajaran lancar. Dikasih temen-temen yang suportif, saling bantu, bisa diajak kerjasama. Sebenarnya masih ada rasa gugup sebelum gue bener-bener bisa sampe di tempat kerja. Menghadapi langsung dunia kerja yang sebelumnya ngga pernah gue bayangin akan melakukannya. Gue sempat berada di fase sedih, ngerasa apa yang udah gue jalani selama hampir 2tahun ini percuma. Tapi Allah masih aja ngasih jalan sampe gue berada di titik ini. Gue tau, ngga ada yang akan baik-baik saja. Pasti akan selalu ada ujian lagi dan lagi. Tapi itulah kunci dari “kenapa kok Aas bisa kuat banget?” Suatu saat, ketika gue menempati tempat tinggal gue untuk tiga tahun kedepan, gue akan merindukan desa yang bernama Tatsuno ini. Banyak memori-memori tentang tontonan kartun jaman gue kecil bermunculan karena banyaknya kesamaan ketika gue tinggal di sini. Mulai dari suara burung gagak yang sesekali berbunyi ketika suasana sen...

Hari Ketiga di Rumah Nobita

Yep, sebagai anak 90-an gue sangat relate sama rumah-rumah yang ada di Jepang termasuk rumah yang sedang gue tempati. Halaman samping rumah tempat Nobita ketemu neneknya (Doraemon ; Stand By Me ) adalah tempat favorit gue. Apalagi mulai hari ini sampai seminggu kedepan cuacanya akan mendung dan hujan. Pagi tadi sudah mulai hujan, dan gue betah berjam-jam duduk melamun atau scroll hp sambil tiduran. Tempat ini tenang, dan gue merasa sangat cocok karena gue kurang begitu suka dengan lingkungan yang bising. Iya iya, si paling introvert . Hehe. Ah, alhamdulillah gak berhenti gue bersyukur untuk kesempatan yang Allah kasih ke gue buat sampai di titik ini.

Hari Kedua di Negeri Matahari Terbit

Hari kedua di Jepang berasa udah betah aja deh. Mulai dari tempat tinggal, orangnya, lingkungannya yang kebetulan dapet tempat di pedesaan dan segala hal yang ada di Jepang. Eh tapi pedesaan di Jepang itu beda jauh sama Indo. Di sini walaupun dikelilingi sawah, pegunungan, tapi jalanan tetap bagus, lampu lalu lintas tetap ada, Konbini (Mini Market) atau ke Supa (Supermarket) juga kejangkau bisa pake sepeda. This is what I want. Walaupun ini masih belum tempat menetap gue untuk beberapa tahun, tapi gue sudah merasa sangat familiar. Entah karena panjangnya penantian gue selama ini, atau memang usia gue sudah bisa dikatakan bisa cepat beradaptasi. Terlebih lagi, untuk beberapa makanan yang rasanya bukan Indonesia banget (gak banyak rempah), gue juga menikmati makanan yang selalu disiapkan.  Hari kedua di Jepang, kita belajar mata uang Jepang (Yen) dan belajar belanja ke Supa, beli kebutuhan masak dan beli cemilan. Sorenya gue dan teman-teman lainnya diajak sepedahan. Banyak banget ha...

Juli, di Negara Lain

Setelah hampir 2 tahun menyimpan rencana ini rapat2 kecuali pada orang terdekat. Akhirnya gue membuat postingan bahwa gue sudah tiba di Jepang. Walaupun gue belum sempat menjawab semua pertanyaan yang masuk melalui DM, dan menceritakan secara detail bagaimana awal mula keputusan ini muncul dan betapa panjang prosesnya. Mungkin suatu saat gue akan menceritakannya.  Alhamdulillah, atas izin Allah dan restu Bapak dan Mama juga anggota keluarga yang lainnya. Gue sampai di titik ini. Di tempat yang mungkin dulu pernah gue inginkan untuk dikunjungi tapi tidak untuk rencana tinggal lama. Tapi Allah Maha Membolak Balik Hati manusia dan Maha Perencana Terbaik, akhirnya gue mengikuti alurnya saja. InsyaAllah rencana tinggal selama 3 tahun semoga diberi kemudahan dalam segala hal. Aamiin.

Berhenti, Untuk Berlari

Seorang teman pernah berkata bahwa keputusan gue meninggalkan zona nyaman adalah hal yang luar biasa. Ketika teman lainnya takut untuk meninggalkan tempat ternyaman mereka, gue seperti pelopor untuk beberapa teman lainnya mengambil jalan yang hampir sama.  Tidak ada jaminan bahwa kehidupan yang gue perjuangkan akan lebih baik nantinya, tapi bukankah Tuhan menjanjikan balasan yang sepadan untuk hamba yang mengubah nasibnya? Gue bukan muslim yang islami-islami banget, tapi gue yakin bahwa segala niat baik akan berbuah baik. Memang prosesnya panjang dan melelahkan, karena begitulah seni dalam menjalani hidup. Toh pada kenyataannya gue semakin kuat karena sering ditempa.  Biar orang lain taunya gue berhenti untuk beberapa macam rutinitas yang gue jalanin beberapa tahun kebelakang, dan biar juga mereka terkejut akan kabar larinya gue di kehidupan yang “semoga” lebih baik nantinya.

Jumat Berkah

Bukan hanya Jumat, gue selalu berharap bahwa setiap hari atau bahkan setiap detik merupakan berkah dari Allah. Tapi sayangnya, di hari Jumat ini gue sudah menangis dari pagi. Karena melihat VT tentang hilangnya Eril (anak pertama Ridwan Kamil). Gue pernah menulis keresahan ini di blog beberapa hari lalu. Intinya, sudah seminggu Eril tidak kunjung ditemukan di sungai Aare Swiss, akhirnya keluarga melepas dengan ikhlas dan mengumumkan bahwa Eril telah meninggal tenggelam. Tidak ada yang pernah siap menghadapi kehilangan, terlebih di usia yang masih begitu muda dan sosok Eril diyakini sebagai orang baik yang dapat meneruskan ayahnya sebagai pemimpin. Tapi, bukannya kita selalu diingatkan bahwa orang baik selalu punya waktu yang lebih cepat untuk menghadap Allah SWT?  Terlepas dari itu, sampai jenazah belum ditemukan masih terbersit harapan meskipun kecil semoga ada keajaiban yang masih ditunggu-tunggu. Namun sebagai pembelajaran dari kasus ini, tetaplah fokus menjadi manusia baik . Ka...

Pertama di Pertengahan

Hari pertama di pertengahan tahun disambut dengan tanggal merah. Alhamdulillah dikasih kesempatan libur, buat leyeh-leyeh. Alhamdulillah pagi-pagi bisa makan bubur yang enak di dekat tempat tinggal. Alhamdulillah bisa mandi pagi tanpa antri. 3 hal kecil yang mau gue syukuri di hari yang cerah ini. Dari sekian banyak kejadian demi kejadian gue masih terus belajar. Belajar untuk terus berfikir positif supaya apa yang dikeluarkan isi hati dan kepala bisa bekerja sama dengan takdir baik yang masih bisa diubah. Belajar untuk menerima dari hal-hal sulit yang dihadapi. Belajar untuk terus berjalan walau terseok, asal jangan berhenti. Gue tau betul, bahwa setiap ketidakikhlasan gue hanya memberatkan langkah gue saja dan menahan segala bentuk kebaikan yang datang dari berbagai penjuru. Maka dari itu, gue belajar yakin dan terus yakin meski harus sedikit demi sedikit. Belajar tidak membandingkan dengan hidup orang lain. Karena pada kenyataannya, everyone has struggle with their own lifes . Kita ...