Langsung ke konten utama

Postingan

<\3

Untuk hati yang tersakiti di saat yang seharusnya penuh ruang untuk memaafkan, bukannya kamu sadar bahwa menggantungkan harap kepada manusia adalah kepastian yang menyakitkan? Kamu sudah tau betul bagaimana manusia bertindak seolah dirinya menjadi orang yang paling di setiap keadaan. Merasa paling sedih, merasa paling bahagia, merasa paling butuh, merasa paling tidak peduli, merasa paling menginginkan tapi semua rasa itu hanya dramatisir dari setiap keadaan. Toh pada kenyataannya, orang yang bilang kepadamu bahwa kamu sebuah rumah dan tempat kembali akan melupakan semua ketika keadaan tidak mendukung ucapannya.
Hai, wahai hati yang merasa sesak bahkan tercabik-cabik. Sadarlah bahwa bergantung pada manusia lainnya adalah sebuah usaha perlahan untuk membunuh dirimu sendiri. Ingat lagi betapa perjuangan untuk sampai di titik ini melewati jalan terjal bahkan semak berduri. Kamu terlalu kuat untuk dikalahkan oleh perasaan semu yang tidak ada ujungnya. Jangan terlalu naif dan percaya, kare…
Postingan terbaru

Meracau Tengah Malam

Okeh, waktu menunjukkan pukul 01.03 dan gue masih belum ngantuk. Hari ke-19 gue di rumah, dan ini merupakan rekor terlama gue berada di rumah semenjak gue merantau ke Jakarta 8 tahun lalu. Awal WFH gue bisa menikmati untuk lebih memanjakan diri gue dan mengembalikan hobi lama gue yakni nulis dan baca novel. Ada waktu buat nonton drakor lagi, nonton YouTube, nonton film yang belum sempet gue tonton dan berbagai alasan membuat gue nyaman yang punya hobi rebahan tiap weekend. Tapi ternyata gue salah, hidup itu ya ngga enak kalo monoton aja sob. Sama terus ritme setiap harinya, ngga ada masalah, ngga ada tantangan. Gini-gini aja. Terlebih berita duka yang ngga henti-hentinya terlepas dari Coronavirus atau kabar meninggal seseorang semakin menjadikan gue berpikir bahwa "gue hidup buat apa sih?"
Korban meninggal akibat Coronavirus di seluruh dunia udah ratusan ribu totalnya sampai dengan sekarang. Dan itu tuh kaya ngasih kabar data statistik aja gitu, tanpa sadar bahwa itu merupa…

Itaewon Class is Daebak

Okeh, kemarin gue baru menyelesaikan serial drama Itaewon Class yang bener-bener kelasssss. Setelah beberapa tahun gue vakum dan "gak punya" waktu buat nonton series, akhirnya gue memutuskan untuk nonton Itaewon Class karena nongol terus di home Netflix. Here we go...
1. Itaewon Class itu beda, ceritanya nggak menye-menye drama tapi yaaa kisah haru tentang hubungan antara orang tua dan anaknya dapet banget. Asli, gue adalah orang yang lemah banget kalo nonton atau baca cerita tentang keluarga atau persahabatan. Walaupun ada cerita cintanya dan menurut gue porsinya sedikit serta menyedihkan (iya, seperti cinta yang dipendam selama belasan tahun atau cinta yang akhirnya ngga bisa bersatu) tapi ngga membuat gue sedih sama sekali. Mungkin hati gue udah jadi batu buat urusan cinta, wkwk.
2. Cerita yang rapi banget bikin gue salut. Jadi, setiap tokoh penting di cerita Itaewon Class ini punya cerita masa lalunya masing-masing yang membuat kita sebagai penonton mengerti bahwa terci…

Semoga Semuanya Lekas Baik-Baik Saja

Pandemi ini membuat jeda pada kehidupan
Hiruk pikuk dan lalu lalang
Klakson kendaraan yang bising
Polusi udara yang semakin parah
Serta kesombongan manusia yang merasa berkuasa atas segalanya

Saya merindukan banyak hal seperti
Berjabat tangan tanpa rasa takut
Bercengkrama dengan teman tanpa ada jarak
Beli bakso depan gang
Beli es di warung pengkolan
Pergi menonton sendirian
Berjam-jam mengitari toko buku
Berolahraga dengan teman-teman satu kantor
Berjalan di trotoar
Atau
Berlibur ke sebuah destinasi impian

Mungkin saya adalah satu dari jutaan bahkan milyaran orang di Bumi
yang menginginkan Pandemi ini segera berakhir.
Semoga Semuanya Lekas Baik-Baik Saja.



Namanya Rindu

Namanya rindu
Dia menjelma menjadi serpihan rasa khawatir
Karena sebuah jeda yang terlalu lama untuk bertemu

Di suatu kamar kecil yang gelap
Tepat jam dua dini hari rindu memanggil
Lagi-lagi karena ia teringat pernah ada lengan kekar yang merengkuh
Merasakan aroma tubuh pada setiap inci

Pada malam-malam yang kelam rindu kembali menghantui
Rasanya terlalu kuat hingga nafas sesak
Mencoba memejamkan mata
Hingga berharap saat membukanya dunia berubah menjadi lebih adil



Terimakasih Sudah Pernah Berjuang

Mungkin memang kebersamaan kita harus lekas diakhiri.
Kamu tidak layak mendapatkan perhatianku, dan aku tidak layak mendapatkan pengorbananmu.
Kita sama-sama menginginkan, tapi tidak dengan semesta.
Lalu kita bisa apa?
Saling memaksakan untuk tetap bersama nyatanya semakin menyulitkan.

Kamu terluka, aku pun sama.
Semakin lama kita memupuk perasaan ini hanya akan membuatku mati perlahan.
Bagaimana tidak?
Kamu menjadi bagian di diriku, menjadi nafas semangatku dan detak jantung irama bahagiaku.

Kita tau, pada bagian perpisahan ini kita sama-sama menahan perih yang tak tertahankan.
Aku tau kau menangis diam-diam. Dan kamu pasti tau aku pun demikian.

Kita tau, kebersamaan yang sama-sama kita impikan hanyalah khayalan.
Sebuah harapan menjadi alasan.
Tapi kenyataannya tidak semudah membalik telapak tangan.
Semesta mengirimmu bukan untuk menjadi pelengkap hidupku.
Pun aku begitu dalam hidupmu.

Kita dipertemukan hanya sebagai pelengkap kenangan.
Tidak akan aku menyesal pernah menjadi priorit…

Sepasang Manusia Batu

Percayalah, tidak ada yang baik-baik saja dari sebuah perpisahan.
Apalagi banyak lagu yang kita dengar berdua saat sepeda motor melaju kencang menuju rumahku.
Kamu, menjadi bagian indah dalam kisahku.
Dan kepergianmu, menjadi bagian menyakitkan dalam hidupku.

Entah tangis pecah keberapa kali ketika aku harus mengakui bahwa hidupku tidak lagi seimbang.
Bagaimana bisa seimbang, kalau bahagiaku saja ada di dalam dirimu.
Bukan berlebihan, tapi begitulah adanya.

Tidak ada waktu yang paling menyenangkan selain saat aku menyiapkan segelas minuman segar kesukaanmu.
Atau saat kita menjadi dua manusia bodoh yang orang lain tidak pernah mengerti apa yang kita bicarakan.

Saat itu, kamu menjadi semangat dalam hari-hariku.
Alasan untuk bangun di setiap pagiku.

Kamu seorang pencerita yang baik, hampir semua perkataanmu selalu kudengar dengan seksama.
Cerita-cerita yang mungkin jika orang lain yang berbicara aku akan mengacuhkannya.

"Batu!" katamu.
Padahal jelas-jelas kita adalah sepasang…

Akankah Kesepian Membunuhku?

Jarum jam berdetik
Jantung berdetak

Burung di luar berkicau
Suara lalu lalang kendaraan terdengar

Hidup seperti tidak hidup lagi sekarang
Sejak aku kehilanganmu

Bukankah aku pernah bilang, bahwa kau semangatku pada hidup yang menyebalkan?

Semesta menahan,
Semesta merebut kebahagiaan.

Kini aku kesepian

Jangankan untuk semangat berjuang, bernafas saja sudah sesak


Akankah kesepian membunuhku?

#DiRumahAja Karena Covid-19

Ngga pernah terbersit dalam benak gue bisa ada di kondisi seperti sekarang. Sendirian, himbauan untuk #DiRumahAja dan #SocialDistancing menjadi alasan setiap orang harus punya alasan buat keluar rumah. Virus yang bermula dari Kota China khususnya Wuhan, sekarang sudah sampe di Indonesia. Sampai saat ini, ratusan orang yang terpapar, puluhan yang meninggal dunia dan belasan pasien yang sembuh. Seperti mimpi, seperti berada di film-film kalo gue pikir-pikir lagi. Berada di rumah tiap akhir pekan membuat gue merasa seperti biasanya, karena sebelum ada virus ini pun gue bukan orang yang suka keluar rumah kalo ngga ada agenda liburan. Tapi untuk bekerja dari rumah atau #WorkFromHome membuat gue lumayan bosan juga. Selain koordinasi yang sulit karena hanya sebatas media chat whatsapp, gue pun kehilangan obrolan kocak selama di kantor. Bagi gue, humor menjadi penyelamat hidup gue yang sedang berada di titik gue gatau hidup gue mau kemana. Gue merasa bahwa humor menjadi salah satu penyemanga…

Pernikahan Itu..

Suatu siang terjadi percakapan antara gue dan nyokap. Kurang lebih seperti ini :
"Ma, ini peyek kacang banyak banget sih. Udah tau pada sukanya peyek ikan teri." Kata gue menggerutu memulai percakapan. "Ya itu Bapak yang beli, kebiasaan deh kalo beli apa-apa tuh suka nggak pake kira-kira. Akhirnya mubazir. Sering banget kaya gitu." Kata nyokap menimpali gerutuan gue.
Kami terdiam sebentar, untuk kemudian nyokap menyambung percakapan yang ada hubungannya dengan percakapan sebelumnya tapi terlalu menohok buat gue.  "Nah kaya gitu yang namanya pernikahan, kalo nyari yang 100% cocok nggak bakalan ketemu sampe kapanpun. Sama halnya kaya Mama sama Bapak yang sering nggak sepaham. Saling menggerutu kekurangan masing-masing tapi ya mau gimana lagi selain menerima."
Seketika itu gue tersenyum kecut menanggapi nasihat nyokap yang memang ada benarnya juga. Alhasil gue tidak memperpanjang percakapan itu.
Tapi percakapan itu masih terngiang di kepala gue setelah bebe…