Langsung ke konten utama

Postingan

Pertanyaan Yang Tidak Perlu Ditanyakan

Maksudnya apa ya pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan? bukannya karena dia namanya pertanyaan jadi memang harus ditanyakan? Haha.
Jadi gini, kemarin gue membuat snapgram yang isi captionnya: Sering ditanya "kapan?" dan "kenapa" membuat gue belajar ; bahwa hati dan perasaan orang gada yang tau (selain Yang Maha Tau). Gak semua pertanyaan harus ditanyakan, cukup mendoakan bila memang benar-benar peduli.
Dan ternyata ada beberapa teman yang menyetujui pendapat gue tersebut. Bisa karena pertanyaan yang sama dengan gue atau pertanyaan apapun, yang menurut gue tidak perlu ditanyakan. Mungkin bagi sebagian orang untuk berada di titik yang sekarang adalah hal mudah. Lulus sekolah, berkarir, berkeluarga, dst. Tapi, apakah semua orang memiliki cerita yang sama juga? Jawabannya bagi gue adalah tidak. Ya. I must struggle till now. Pendidikan, pekerjaan, hubungan, atau apapun yang dapat gue bandingkan tidak semulus milik orang lain. But there's no reason for stop it. Kare…
Postingan terbaru

Hidup Itu Jalan-jalan

"Pulang jam berapa?" "Jam segini kok belum pulang?" "Lagi dimana?"
Rasanya aneh ada yang tanya begini seminggu terakhir. Yup, it's my younger sister. Seriously it's so weird for me. Apalagi sampai dia peluk gue karena gue pulang malem setelah ada acara selepas jam kantor. Suddenly I wanna cry at that moment!
Lima tahun merantau di Jakarta dan memang banyak momen bersama keluarga yang terlewatkan. Meskipun tinggal bareng kakak, tapi yaa beda rasanya dengan satu keluarga serumah. Dan ini gue alami sejak kecil.  Entah itu Bapak yang kerja di Jakarta (di rumah cuma gue, teteh, mama, kakek, nenek). Setelah Bapak kerja di rumah, teteh SMP di Karawang (di rumah cuma gue, mama, bapak, nenek, kakek). Habis itu teteh lanjut SMA di Cirebon, dan gue ikutan lanjut SMP di Cirebon (di rumah cuma mama, bapak, nenek, kakek) Gue lanjut SMA di rumah, teteh kerja di Jakarta (di rumah cuma gue, adek, mama, bapak, nenek, kakek). Lulus SMA, gue mengikuti jejak teteh perg…

Tulisan di Akhir Tahun

Di penghujung Desember 2017 membuat gue mengingat kembali hal apa saja yang terjadi di tahun ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya tidak banyak hal istimewa terjadi di tahun ini, tapi ada beberapa hal baru yang membuat gue selalu bersyukur akan kehidupan yang sudah Allah beri. Start from my very first flight experience, till tried again my old hobby (Naik Gunung). Setiap perjalanan selalu membuat gue merasakan hal yang berbeda tentunya. Bahagia dan lelah adalah hal yang bersifat kontradiktif namun selalu dirasakan ketika dalam atau setelah perjalanan.  Hal itu membuat gue selalu sadar dan menjejak bumi, tidak berani untuk menyombongkan apapun karena memang tidak ada hal yang patut disombongkan dari apa yang gue punya. 
Bagaimana tahun depan? masih sama. Namun memang ada beberapa keinginan di tahun depan yang membuat gue berharap semesta turut mengaminkan. Semoga Allah mempermudah niat-niat baik yang selalu gue panjatkan dalam doa yang dibiarkan melangit, mengetuk pintu-Nya.

Became a Dancer?

full team Berawal dari lomba Defile ketika Opening Porseni dalam rangka peringatan HUT BRI Life ke-30, kemudian salah satu teman mengajak gue untuk ikut serta menjadi Dancer pembuka acara puncak HUT BRI Life. Entah kenapa gue menjadi salah satu yang terpilih, padahal kalau dilihat dari pengalaman sama sekali gue nggak punya. But for experience, then I said yes. And she happy.

Latihan 2 minggu sebelum acara membuat fisik gue drop. Emang dasar gue jarang olahraga, sekalinya lompat-lompat, gerak banyak ala-ala dancer membuat badan gue pegel-pegel. H-2 badan gue mulai protes, selain karena pulang malam yang membuat gue masuk angin, eh ditambah gue salah makan yang menyebabkan diare. Aish~
Lengkap sudah. LENGKAP.

Tapi gue tidak bisa meninggalkan apa yang sudah gue mulai, akhirnya gue tetap beraktifitas dan latihan seperti biasa. Dan sampai hari H siangnya gue masih diare. Alhamdulillah tidak mengganggu acara juga sih, hehe.

Oke, sebenarnya gue mau membahas tentang bagaimana rasanya jadi Dancer, …

Jangan Bersedih Dianggap Salah

Jika seseorang menganggapmu salah, bukan berarti kamu memang salah.
Bisa jadi karena perbedaan sudut pandang saja.
Toh pada dasarnya, setiap manusia merasa dirinya benar, dan orang lain salah.
Jika seseorang menyalahkanmu atas apa yang telah kamu perbuat, jangan bersedih.
Bisa jadi karena kamu memang tidak menceritakan alasan kepadanya, sehingga ia salah paham.
Toh kebanyakan manusia lebih senang menyimpulkan sesuatu, sehingga merasa dirinya hebat.

Hidup ini bukan hanya tentang bahagiamu, tapi juga sedihmu.
Jadi jangan berharap tidak pernah ada kesedihan yang menghampiri.
Karena sedih dan bahagia itu bagai dua kata tak terpisah dalam hidup.

Tegarlah, kuatlah. 

Untuk Seseorang Yang Baik Hatinya

Hari ini kamu dikecewakan, mungkin esok kamu dibahagiakan.
Begitulah hidup.
Tidak perlu membenci.
Karena Allah tau kamu yg baik hatinya dapat memaafkan meski sulit.
Karena Allah tau kamu yg baik hatinya tidak akan menjadi bagian dari mereka yang berbuat tidak baik kepadamu.
Karena Allah tau kamu yang baik hatinya akan selalu sabar meski tangis tidak dapat terbendung.
Luka hati akan sembuh dengan keikhlasan. Tidak dapat sekaligus, semuanya butuh proses. Maka nikmatilah prosesnya. Allah tau, kamu baik hatinya.


With Love  💙

Rentang Kisah - Gita Savitri Devi

Berawal dari pagi ini dengan niatan pergi ke kampus malah berujung ke acara M&G kak Gita atau yang biasa dikenal @gitasav Tapi gue bukan bolos ya, ternyata memang belum jadwal perkuliahan. Jadi gue ke kampus cuma buat tanya info ke akademik perihal perkuliahan. Selesai dari kampus, gue langsung bergegas pergi ke Gramedia Matraman. Gue tau acara ini dari beberapa minggu yang lalu. Sempat agak kecewa karena gue berpikir nggak bisa datang ke acara tersebut. Tapi ternyata Allah baik banget ngasih kesempatan gue buat bisa ketemu langsung setelah sebelumnya selalu bentrok sama kegiatan kantor atau lainnya. Dan tentu sebelum kak Gita pergi ke Jerman lagi buat melanjutkan studinya. Sekian prolog yang nggak penting tadi 😅
***
Setelah selesai melahap buku pertama kak Gita hanya dalam waktu beberapa jam, gue kenyang tapi seret seperti nggak dikasih minum. Actually, I'm not one of people can give the review karena bakal ngelantur kesana kemari. Tapi gue cuma mau kasih tanggapan aja setel…

Kenapa Harus Hidup Membenci?

Kenapa harus hidup membenci? Kenapa harus melelahkan diri sendiri dengan perasaan yang pada dasarnya tidak membuat nyaman? Kenapa harus membenci kepada orang yang bahkan kita tidak kenal? Kenapa?

Pertanyaan diatas merupakan pertanyaan yang akhir-akhir ini terlintas di kepala gue. Asli gue bingung, apa motivasi orang buat membenci orang yang bahkan "tegur sapa" pun belum pernah? Hanya karena dia pernah mendengar hal tentang orang tersebut dari orang lain a.k.a "katanya".
Contoh mudahnya seperti membenci selebriti. Well, kita bisa tau semua kegiatan seleb tersebut di berbagai media. Tapi apakah berhak kita menjudge bahkan membenci seleb tersebut apalagi sampai meninggalkan komentar yang menyakiti hati di postingan dia? Menurut logika gue terlalu lucu sih. Oke, nggak sampai meninggalkan komentar dipostingannya tapi menyebarkan sifat-sifat buruk yang "diberitahu orang" tentang orang tersebut. I believe if there's no perfect in the world. Apalagi manusia y…